Pentingnya Pembuatan Lifting Plan Sebelum Pekerjaan Lifting Dilaksanakan

lifting plan
Image via fanparessei.com

Didalam dunia project konstruksi oil & gas baik itu di onshore maupun di offshore pasti memerlukan pengangkatan (lifting) baik itu untuk proses perpindahan (transfer) dan proses installasi.

Proses pengangkatan sebelum dilaksanakan pasti memerlukan rencana pengangkatan (lifting plan) sebelum proses dari pekerjaan pengangkatan tersebut dilakukan.

Apa itu Lifting Plan ?

Saya akan mencoba menshare berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya didunia project dan konstruksi baik di onshore (daratan) maupun di offshore (lepas pantai).

Lifting plan adalah rencana pengangkatan untuk setiap proses pengangkatan dimana harus memperhatikan risiko yang akan dihadapi dalam pekerjaan dan mengidentifikasi sumber bahaya dan sumber daya manusia yang tepat untuk melakukan pekerjaan pengangkatan dengan aman.

Lifting plan disiapan sebelum dilakukan pekerjaan pengakatan yang menggunakan alat angkat seperti TMC (Truck Mounted Crane), Mobile Crane, Tower Crane, Crawler Crane, dan lain lain.

Dalam membuat lifting plan ada beberapa point penting yang harus di perhatikan antara lain sebagai berikut :

  1. Dimensional dan berat beban yang akan diangkat.

Didalam lifting plan wajib untuk ditulskan dari dimensional atau size dari material yang akan diangkat atau ditransfer karena ukuran atau size dari material yang akan diangkat tersebut menentukan dari area ring of fire dari proses pengangkatan tersebut yang bersinggungan dengan fasilitas atau equipment yang ada disekitar dari proses pengangkatan tersebut.

Untuk berat beban dari material yang akan diangkat juga wajib untuk dituliskan didalam lifting plan tersebut karena berhubungan dengan SWL/WLL (Safe Working Load/Working Load Limit) dari alat bantu angkat dan alat angkat dari material yang akan diangkat tersebut. Karena jika melebihi dari  SWL/WLL dari alat bantu angkat atau alat angkat akan berpotensi terjadi nya kecelakaan pada saat proses pengangkatan tersebut.

2. Jenis dan beban kerja aman dari alat angkat yang akan digunakan.

Didalam lifting plan juga dituliskan jenis dan beban kerja aman (SWL) dari alat angkat yang akan digunakan. Ini juga penting untuk diketahui dari team lifting yang akan mengerjakan dari proses pengangkatan tersebut. Karena masing-masing dari alat angkat mempunyai karekter atau type nya dan batas kemampuan pengangkatan yang diizinkan dari manufaktur nya.

3. Alat bantu angkat apa saja yang akan digunakan.

Didalam proses pengangkatan wajib dituliskan alat bantu angkat apa saja yang akan digunakan saat proses pengangkatan tersebut. Karena setiap dari alat bantu angkat yang dituliskan didalam liting plan tersebut wajib diketahui dari team lifting yang akan bekerja pada saat proses pengangkatan tersebut dan alat bantu angkat tersebut sudah dilakukan proses inspeksi atau pengujian tanpa rusak untuk mengetahui kekuatan dan visual dari alat bantu angkat tersebut.

4. Area lokasi pengangkatan.

Area lokasi pengangkatan juga wajib dituliskan didalam lifting plan supaya orang-orang yang tidak termasuk didalam team lifting tidak berada atau sedang bekerja dan beraktifiitas diarea pengangkatan tersebut pada saat proses pengangkatan sedang berlangsung.

5. Dimensional dari alat bantu angkat (shackle/wire sling) yang akan digunakan.

Didalam lifting plan juga wajib untuk dituiskan untuk dimensional atau size dari  alat bantu angkat yang akan digunakan pada saat proses pengangkatan, ini wajib diketahui dari team lifting akan yang bekerja pada saat proses pengangkatan tersebut.

6. Hasil inspeksi dari alat angkat dan alat bantu angkat yang akan di gunakan.

Proses pengujian tanpa rusak atau inspeksi rutin wajib dilakukan minimal 6 bulan atau 12 bulan untuk mengetahui dari kekuatan dan visual dari alat angkat dan alat bantu angkat yang digunakan sehari-hari. Dan hasil laporan dari pengujian tanpa rusak atau inspeksi tersebut wajib dilampirkan didalam lifting plan tersebut.

7. Jumlah alat angkat yang akan di gunakan.

Didalam lifting plan juga wajib dituliskan jumlah dari alat angkat yang digunakan pada saat proses pengangkatan tersebut. Ini wajib diketahui oleh team lifting yang berbeda yang bekerja secara berbarengan dan pengangakatan nya dilakukan secara bersamaan atau tandem. Dan jika proses pengangkatan nya melebihi dari alat angkat yang sudah dituliskan didalam lifting plan maka wajib untuk pekerjaan tersebut distop dahulu menunggu lifting engineer menghitung ulang beban kerja, strategi dan metode pengangkatan sesuai prosedur dan aturan nasional dan internasional.

8. Lifting point nya apakah sudah sesuai dengan yang direncanakan.

Lifting point dari suatu pengangkatan wajib dituliskan didalam lifting plan karena ini berpengaruh terhadap centre of gravity (COG) dari material yang akan diangkat. Karena jika lifting point dari material yang akan diangkat tidak sesuai dengan yang dituliskan didalam lifting plan dapat berpotensi teradi nya kecelakaan kerja yang mengakibatkan fatality atau kerusakan pada fasilitas yang ada disekitarnya. Dan ini juga wajib diketahui dari team lifting yang akan bekerja didalam proses pengangkatan tersebut.

9. Sertifikat dari operator (SIO) alat angkat

Sertifikasi kompetensi wajib dilakukan pada operator dari alat angkat yang dilakukan minimal setahun atau tiga tahun sesuai dengan peraturan perusahaan atau peraturan pemerintah dimana sertifikasi kompetensi tersebut dilakukan untuk melatih dan menagasah kecakapan serta keterampilan dari operator alat angkat tersebut. Sertifikat kompetensi dari operator alat angkat tersebut wajib dilampirkan didalam lifting plan tersebut.

10. Metode pengangkatan dari alat angkat yang akan di gunakan.

Didalam proses pengangkatan pasti mengunakan metode pengangkatan yang terbaik dan aman untuk dilaksanakan. Untuk macam-macam metode pengangkatan yang sering digunakan didalam proses pengangkatan dengan metode choke lifting, straight lifting dan lain sebagai nya. Ini juga wajib diketahui dari team lifting yang akan bekerja pada proses pengangkatan tersebut.

11. Kemampuan dan batas dari alat angkat (load chart).

Setiap alat angkat pasti mempunyai batas maksimal kemampuan angkat yang  diperbolehkan dari manufaktur pada saat alat bantu tersebut dibuat. Dan untuk mengatahui batas kemampuan alat angkat tersebut bisa dilihat dari load chart alat nagkat tersebut pada saat alat angkat tersebut dilakukan pengujian pengangkatan beban secara makasimal. Dan jangan melaksanakan pengangkatan melebihi dari batas load chart yang sudah ditentukan oelh manufaktur.

12. Batas aman dari alat bantu angkat (SWL / WLL )

Setiap alat bantu angkat pasti mempunyai batas beban kerja aman dan batas maksimum beban yan boleh diangkat pada saat proses lifting. Pada saat proses pengangkatan tidak boleh melebihi dari batas kerja aman dan batas maksimum beban yang sudah di buat dari manufaktur nya. Da ini juga tertulis didata sheet dari setiap alat bantu angkat yang dikeluarkan dari manufakturnya. Dan data sheet dari alat bantu angkat tersebut wajib dilampirkan didalam lifting plan tersebut.

Demikian sekilah tentang lifting plan dan semoga bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan dari teman-teman semua nya.

Tetap Semangat dan Jangan lupa BerDoa/BerIbadah.

God Bless You.

Penulis dan Praktisi Konstruksi Perminyakan : Bernard C Situmorang,ST,.MT

Iklan Sponsor

iklan mediak3
About Bernard Situmorang 4 Articles
Saya seorang praktisi konstruksi di sektor oil and gas yang sekaligus menekuni dunia penulisan.

2 Comments

  1. Point 4. Lokasi pengangkatan
    Selain untuk keamanan personil, lebih penting lagi mengetahui lokasi dari mana dan kemana beban diangkat adalah untuk mengetahui radius pengangkatan, sehingga SWL crane bisa ditentukan dan bisa dipastikan beban mampu atau tidak diangkat. Lokasi pengangkatan wajib dilihat juga halangan yang ada saat beban diangkat, sehingga tidak berpotensi membentur apapun saat gerakan swing crane.
    Demikian tambahannya, moga manfaat.

Leave a Reply to Bernard Situmorang Cancel reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.