Kebakaran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, baik di rumah, kantor, pabrik, maupun area publik. Salah satu alat keselamatan yang paling sering digunakan untuk menghadapi kebakaran awal adalah APAR atau Alat Pemadam Api Ringan. Alat ini dirancang agar mudah dioperasikan oleh siapa pun sehingga kebakaran kecil bisa cepat dikendalikan sebelum menjadi bencana besar.
Namun kenyataannya, banyak orang yang tidak tahu cara menggunakan APAR dengan benar. Alih-alih membantu, kesalahan dalam penggunaan APAR justru dapat memperburuk situasi. Artikel ini akan membahas berbagai kesalahan fatal saat menggunakan APAR yang harus Anda hindari, sekaligus memberikan panduan agar pemakaian APAR sesuai standar keselamatan kerja.
Pentingnya APAR dalam Pencegahan Kebakaran
APAR adalah alat pertolongan pertama dalam menghadapi kebakaran. Keberadaan APAR di tempat kerja maupun rumah tangga sangat vital karena:
- Cepat digunakan: APAR bisa langsung dioperasikan saat api masih kecil.
- Mudah dijangkau: Biasanya ditempatkan di lokasi strategis yang mudah terlihat.
- Mencegah kerugian lebih besar: Api kecil yang dipadamkan dengan APAR bisa mencegah kerugian material maupun korban jiwa.
Sayangnya, meski penting, penggunaan APAR sering kali salah. Berikut adalah kesalahan fatal yang sering terjadi.
- Tidak Memahami Jenis APAR
Banyak orang mengira semua APAR bisa digunakan untuk semua jenis kebakaran. Padahal, APAR memiliki klasifikasi sesuai tipe kebakaran:
- APAR air (Water): untuk kebakaran kelas A (kayu, kertas, kain).
- APAR CO₂: untuk kebakaran kelas B (cairan mudah terbakar) dan kelas C (listrik).
- APAR powder: serbaguna, bisa untuk kebakaran kelas A, B, dan C.
- APAR foam: cocok untuk kebakaran cairan, tapi tidak untuk listrik.
Kesalahan memilih jenis APAR bisa berakibat fatal. Misalnya, menggunakan APAR air pada kebakaran listrik justru bisa menyebabkan korsleting dan memperbesar bahaya.
- Tidak Mengetahui Cara Menggunakan APAR
Kesalahan berikutnya adalah tidak tahu prosedur penggunaan APAR. Padahal, teknik standar sudah ditetapkan dengan metode PASS:
- Pull: Tarik pin pengaman.
- Aim: Arahkan nozzle ke pangkal api.
- Squeeze: Tekan tuas untuk mengeluarkan isi tabung.
- Sweep: Gerakkan dari kiri ke kanan secara menyapu.
Banyak orang menembakkan APAR ke bagian atas api, bukan ke sumbernya. Akibatnya, api tidak padam dan justru menyebar lebih luas.
- APAR Tidak Pernah Dicek Kondisinya
APAR bukan alat sekali beli lalu dilupakan. Setiap APAR memiliki masa kedaluwarsa dan tekanan tabung yang harus dipantau. Kesalahan umum yang sering terjadi:
- Tidak memeriksa manometer (jarum indikator tekanan).
- Membiarkan tabung berkarat.
- Segel pengaman hilang atau rusak.
- Isi tabung sudah kedaluwarsa.
Bayangkan jika kebakaran terjadi dan APAR yang ada ternyata tidak berfungsi. Bukan hanya fatal, tapi juga bisa menimbulkan kerugian besar.
- Penempatan APAR yang Salah
Kesalahan fatal lainnya adalah penempatan APAR yang tidak sesuai standar. Beberapa kesalahan yang sering ditemui:
- APAR diletakkan di sudut ruangan yang sulit dijangkau.
- Tertutup oleh tumpukan barang.
- Tidak ada tanda atau signage yang jelas.
- Ditempatkan di lantai tanpa bracket atau box khusus.
Standar K3 mengatur bahwa APAR harus ditempatkan di area mudah terlihat, dekat jalur evakuasi, dan mudah dijangkau dengan tinggi maksimal 125 cm dari lantai.
- Tidak Pernah Dilakukan Pelatihan
APAR hanya efektif jika orang yang menggunakannya tahu cara mengoperasikan. Kesalahan fatal terjadi ketika perusahaan hanya membeli APAR, tetapi tidak pernah mengadakan pelatihan bagi karyawan.
Akibatnya, saat kebakaran benar-benar terjadi, orang yang mencoba menggunakan APAR sering panik, salah arah, atau bahkan tidak bisa membuka pin pengaman.
- Menggunakan APAR Sampai Habis Tanpa Perhitungan
Banyak orang menggunakan APAR tanpa strategi, menekan tuas terus-menerus hingga habis. Padahal isi APAR terbatas, biasanya hanya 10–20 detik. Jika diarahkan sembarangan, api tetap menyala meskipun tabung sudah kosong.
Strategi yang benar adalah menyemprotkan isi tabung ke pangkal api dengan gerakan menyapu. Jika api padam sebagian, jangan biarkan api menyala lagi, tapi teruskan penyemprotan hingga benar-benar padam.
- Tidak Mengganti APAR Setelah Digunakan
Kesalahan berikutnya adalah tidak mengganti atau mengisi ulang APAR setelah digunakan, meskipun hanya sedikit. Banyak orang berpikir bahwa tabung yang sudah dipakai sebagian masih bisa dipakai lagi di lain waktu.
Padahal, APAR yang sudah digunakan harus segera diisi ulang atau diganti agar siap digunakan kembali saat keadaan darurat berikutnya.
- Tidak Mengikuti Standar K3
Di Indonesia, penggunaan APAR diatur dalam standar K3 dan regulasi kebakaran. Sayangnya, banyak perusahaan masih mengabaikan aturan ini, misalnya:
- Jumlah APAR tidak mencukupi.
- Tidak ada pemeriksaan rutin.
- Jenis APAR tidak sesuai risiko kebakaran di lokasi kerja.
- Tidak ada dokumentasi inspeksi.
Ketidakpatuhan terhadap standar ini bukan hanya membahayakan keselamatan, tapi juga bisa berakibat sanksi hukum.
- Menggunakan APAR dalam Kondisi yang Tidak Aman
Ada kalanya kebakaran sudah terlalu besar dan tidak memungkinkan dipadamkan dengan APAR. Kesalahan fatal adalah tetap mencoba menggunakan APAR dalam situasi berbahaya, misalnya:
- Api sudah menjalar luas.
- Asap tebal membuat pernapasan terganggu.
- Tidak ada jalur evakuasi aman.
Dalam kondisi ini, sebaiknya segera evakuasi diri dan hubungi petugas pemadam kebakaran, bukan memaksakan diri menggunakan APAR.
Cara Mencegah Kesalahan Fatal dalam Penggunaan APAR
Agar kesalahan fatal saat cara penggunaan APAR tidak terjadi, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
- Pahami jenis APAR sesuai klasifikasi kebakaran.
- Ikuti pelatihan rutin agar semua orang tahu cara menggunakan APAR.
- Lakukan pemeriksaan bulanan terhadap kondisi tabung.
- Tempatkan APAR di lokasi strategis dan pasang tanda yang jelas.
- Isi ulang APAR segera setelah digunakan.
- Ikuti standar K3 dan regulasi terkait kebakaran.
- Utamakan keselamatan diri, jangan memaksa jika kondisi api tidak terkendali.
Kesimpulan
APAR adalah alat vital dalam pencegahan kebakaran, namun fungsinya hanya akan optimal jika digunakan dengan benar. Sayangnya, masih banyak kesalahan fatal yang sering dilakukan, mulai dari tidak memahami jenis APAR, salah arah saat menyemprot, hingga lupa melakukan perawatan rutin.
Dengan menghindari kesalahan ini, kita tidak hanya melindungi aset perusahaan atau rumah tangga, tetapi juga menjaga keselamatan jiwa. Kesadaran, pelatihan, dan kepatuhan terhadap standar K3 adalah kunci utama agar APAR benar-benar menjadi penyelamat di saat darurat.



