Apa itu Segitiga Management Project ?

segitiga manajemen proyek

“Salam Sejahtera Buat Kita Semuaā€¯

Bertemu lagi bersama saya disini untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman yang saya tuliskan disini dan semoga dapat menambah khasanah pengetahuan bagi teman-teman yang membacanya.

Semoga teman-teman yang membaca tulisan saya ini didalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan dalam keadaan sehat serta berbahagia selalu.

Didalam dunia project konstruksi baik itu di onshore (daratan) atau di offshore (lepas pantai) pasti menggunakan jasa kontraktor EPCI atau dikerjakan sendiri dengan menggunakan kontraktor in-house (blanket contract) dimana kontraknya sebagai kontraktor services atau maintenance kepada perusahaan yang memberikan contract services kepadanya atau bisa disebut dengan client company. Dari sepanjang pangalaman dan pengetahuan saya mengerjakan suatu project baik itu di onshore maupun di offshore tidak pernah lepas dari apa yang disebut dengan segitiga mangement project.

“Apa itu Segitiga Management Project?”

Disini saya akan mencoba berbagi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya di dunia project dan konstruksi di sektor perminyakan yang pernah saya jalani.

Segitiga management project dibagi tiga bagian dari menjadi segitiga sama sisi yang saling berhubungan antara sisi satu dengan sisi yang lain nya.

Ketiga sisi tersebut antara lain: 1. Waktu (time), 2. Biaya (cost), 3. Sumber daya manusia (manpower).

Di dalam mengerjakan sebuah project hubungan antara ketiga sisi dari segitiga management project ini saling berkaitan erat dan tidak bisa berat sebelah yang bisa mengakibatkan satu sisi dari segitiga management project ini menjadi tidak simetris atau menjadi tidak sama sisi. Disini saya membuat ilustrasi contoh dari segitiga management project dimana jika salah satu sisi dari segitiga management project tersebut tidak simetris atau berat sebelah.

Salah satu contohnya didalam suatu project EPCI dimana project tersebut mengerjakan pembuatan satu platform (konstruksi bangunan laut) di offshore jika biaya (cost)  minim dari scope of work yang sudah diperkirakan atau disurvei dengan biaya yang sebelumnya lumayan besar maka secara tidak langsung akan mempengaruhi komponen lainnya. Kontraktor tersebut jadi tidak bisa merekrut sumber daya manusia (manpower) yang berpengalaman dan terampil (contohnya saat merekrut welder atu pipe fitter yang biasa nya menggunakan sumber daya dari luar daerah akhirnya menggunakan tenaga lokal dari daerah tersebut). Dan waktu (time) yang diperlukan untuk mengerjakan project tersebut menjadi mundur dari schedule yang sudah dijadwalkan dan disetujui dari pihak client kepada kontraktor. Dan ini juga akan berdampak kepada kualitas hasil pekerjaan akan tidak baik dari segi mutunya. Karena keterbatasan di dalam memperkerjakan tenaga yang terampil atau yang berpengalaman di mana sudah pasti didalam pembayaran upah kerjanya lebih mahal dari pada tenaga kerja yang belum berpengalaman atau kurang terampil di bidangnya.

Begitupun untuk komponen-komponen lainnya. Jika salah satu sisi dikurangi, bentuk segitiga tidak akan simetris, dan tentu akan berpengaruh ke luas segitiga. Yang berarti akan berpengaruh pada hasil produksi, hasil setiap pekerjaan tersebut.

Saya merefleksikan dengan pengalaman yang pernah saya kerjakan sebagai seorang seorang project engineer dimana project yang saya running adalah in-house project di sebuah perusaahan oil & gas nasional yang beroperasi di area laut Jawa.

Sebagai seorang project engineer saya mempersiapkan waktunya (time) dari semua proses fase pekerjaan dimulai dari fase fabrikasi dari row material di workshop kontaktor, tranportasi dari material yang sudah selesai difabrikasi beserta assesoriesnya menuju ke offshore sampai pada saat installasinya di offshore. Dalam hal ini saya harus memonitor progress dari fabrikasi di workshop agar tidak banyak waktu yang terbuang (down time) misalnya repair welding dari proses fabrikasi atau reject material jika materialnya tidak sesuai dengan data sheet dan semuanya itu harus disesuaikan dengan jadwal (time schedule) yang direncanakan selama fase fabrikasi.

Kemudian saya membuat list matrix dari tools/equipment yang akan digunakan di offshore dan sumber tenaga kerja (manpower) yang akan terlibat di dalam proses instalasi di offshore. Disini saya juga bekerja sama dengan lini department yang lain yang bersinggungan dengan project tersebut antara lain department Production/Operations, HSSE, PSCM, QC, Marine, dan dept lainnya, dimana untuk schedulling boat, ketersediaan POB (personil on board) di living quarters platform di offshore selama proses installasi, dan saya juga ikut memastikan kesehatan dari semua personnel yang terlibat dalam proses installasi dalam kondisi fit to work ke offshore, serta membuat work package untuk scope pekerjaan beserta durasi nya dan dispensasi area proses installasi serta hot work permit yang harus ditandatangani (approval) sampai ke level tertinggi di perusahaan yaitu General Manager (GM ) dari perusahaan tersebut.

Dan untuk biaya (cost) pada saat itu saya diinformasikan oleh cost control supaya tidak melebihi dari cost yang sudah dianggarkan dari project tersebut.

Oleh karena itu saya harus mencari window yang tepat untuk proses installasi di site. Di offshore (laut utara Jawa) sebaiknya proses installasi atau fase konstruksi dilakukan sebelum masuk musim angin muson barat (bulan oktober sampai bulan maret). Karena kami tidak bisa mengetahui kapan hujan, ombak dan angin akan datang pada saat proses installasi atau fase konstruksi sedang berlangsung. Tetapi sebagai manusia biasa kami hanya bisa berdoa semoga cuaca nya cerah dan sambil mendapatkan informasi prakiraan cuaca (weather forecast) dari bantuan radio operator dari platform yang terdekat atau bantuan infromasi cuaca dari radar boat yang mendukung pekerjaan kami selama di offshore. Karena jika cuaca tidak bersahabat maka akan membuat proses dari installasi atau fase konstruksi itu menjadi mundur dari schedule yang sudah direncanakan dan membuat cost menjadi bertambah (cost dari boat yang mensupport pekerjaan, tools/equipment, manpower) akibat dari proses installasi atau fase konstruksi yang tidak tepat waktu.

Intisari atau benang merah dari yang saya tuliskan ini adalah pekerjaan itu harus selesai dengan tepat waktu (time) dengan sumber daya tenaga kerja nya (manpower) yang mempunyai kompetensi yang handal dengan hasil kualitas kerja yang baik serta tidak ada kecelakaan kerja dengan biaya (cost) yang tidak membengkak dari biaya yang sudah dianggarkan.

Jika ini berhasil diterapkan maka skema segitiga management project bentuknya akan menjadi segitiga sama sisi atau segitiga simetris dimana sisi waktu (time), biaya (cost) dan sumber tenaga kerja (manpower) tidak ada yang saling berbeda antara sisi satu dengan sisi yang lain nya.

Demikian informasi yang bisa saya share dsini dan semoga bermanfaat untuk teman-teman dan jangan lupa untuk selalu berbagi kebaikan kepada sesama manusia.

Tetap Semangat dan Jangan lupa BerDoa/BerIbadah.

God Bless You.

Penulis dan Praktisi Konstruksi Perminyakan : Bernard C Situmorang,ST,.MT

Iklan Sponsor

iklan mediak3
About Bernard Situmorang 3 Articles
Saya seorang praktisi konstruksi di sektor oil and gas yang sekaligus menekuni dunia penulisan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.